Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 355
(1-357)
Ketahuilah![1] Dapat dipahami dari kesempurnaan kecerdasan hewan ketika muncul ke dunia dan kemampuannya dalam pengetahuan praktis yang terkait dengan hidupnya adalah bahwa ia diutus ke dunia untuk bekerja; bukan untuk terus belajar.

Dipahami pula dari kebodohan manusia dan kelemahannya saat keluar ke dunia dan kebutuhannya untuk belajar pada setiap tuntutannya dan semua rangkaian usianya adalah bahwa ia diutus ke dunia untuk terus belajar dan beribadah; bukan bekerja. Tugas yang diminta darinya adalah menata aktivitas tumbuhan dan hewan yang Allah tundukkan untuknya serta mengambil manfaat dari rambu-rambu rahmat-Nya. Lalu, berdoa, meminta, mendekat, dan beribadah kepada Zat yang telah menundukkan semua entitas untuknya yang sangat lemah, papa, dan miskin. Pengetahuannya yang diterima adalah mengenal Zat yang telah memuliakannya, yang menundukkan semua untuknya, serta menyiapkannya untuk beribadah dan bahagia dengan mempelajari hikmah alam dari sisi yang bisa melahirkan makrifat terhadap Penciptanya lewat nama-nama, sifat, keagungan, keindahan, dan kesempurnaan-Nya. Selain itu adalah sesuatu yang tidak berguna atau berupa kesesatan.

Ya Allah, jadikan kami sebagai hamba-Mu dalam setiap kedudukan dengan terus menyembah-Mu, bersimpuh di hadapan uluhiyah-Mu, sibuk dengan makrifat kepada-Mu.

Ketahuilah! Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana dengan kondisi-Nya yang jauh dari sifat lemah serta dengan kedermawan-Nya yang sempurna, Dia mencipta partikel sebagaimana mencipta mentari sekaligus memberinya wujud yang sama.

Sebagaimana mencipta partikel di samping mentari, Dia juga mencipta tumbuhan terkecil seperti pohon yang paling besar. Di samping mencipta malaikat yang mengatur mentari beserta malaikat yang mengatur tetesan, Dia juga mencipta hewan terkecil sebagaimana hewan terbesar di mana keduanya sama-sama menjadi hamba. Dia menghadirkan satu entitas dengan bentuk yang paling baik sebagaimana menghadirkan keseluruhan entitas yang tak terbatas. Semua entitas entah yang kecil ataupun yang besar, entah sedikit ataupun banyak, memiliki tugas yang sesuai, hikmah yang selaras, dan tujuan yang baik dari hazanah rahmat Zat yang,

Keadaan-Nya apabila menghendaki sesuatu cukup berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka, terjadilah ia. Maka, Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya terdapat kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.[2]

Ketahuilah![3] Wahai muslim, dalam melaksanakan tugas dan muamalahmu yang berdasarkan prinsip-prinsip syariat engkau mendapatkan simpanan ukhrawi yang demikian besar. Setiap usiamu berubah menjadi amal, setiap kebiasaanmu yang mubah berubah menjadi ibadah, serta kelalaiamu dengan berbagai kesibukan berubah dengan hadirnya hati.

Misalnya, jika engkau menjual atau membeli sesuatu lalu engkau mengamalkan apa yang dikatakan oleh syariat dalam muamalah tersebut, lalu menjaga hukumnya dalam ijab kabul yang terjadi, maka hal itu menjadi ibadah, ketaatan, dan amal ukhrawi. Jagalah baik-baik.
-----------------------------------------
[1] Kata Kedua puluh tiga menjelaskan persoalan ini.
[2] Q.S. Yasin: 82-83.
[3] Bagian pertama dari kilau kesebelas menjelaskan masalah ini.
No Voice