Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 181
(1-357)
Kemudian perhatikan bagaimana tumbuhan dan pohon melaksanakan perintah Sang Pencipta dengan cara yang menunjukkan kecintaan dan kenikmatan. Tampilannya yang indah serta harumnya yang semerbak memperlihatkan rasa rindu. Kerelaan diri untuk berkorban bagi bulir dan buahnya memperlihatkan bahwa kenikmatannya terwujud di saat melaksanakan perintah. Dengan kondisi mengalir dari pintu rahmat, ia menyediakan dan menghadirkan nutrisi yang paling baik. Ia memberikan buahnya dengan ijin Tuhan. Tidakkah engkau melihat bagaimana pohon tin memberikan susu murni yang terambil dari perbendaharaan rahmat-Nya sementara ia sendiri memberikan makan dirinya dengan tanah. Pohon delima juga mengeluarkan minuman yang murni yang diberikan oleh Tuhan sementara ia sendiri hanya minum air biasa. Begitulah seterusnya.

Kemudian perhatikan kondisi sejumlah benih. Ia tampak segera ingin keluar dalam bentuk bulir sebagaimana tahanan yang berada di tempat sempit ingin keluar menuju taman. Dari rahasia yang berlaku di alam lewat sunnatullah ini, maka yang tidak bekerja dan santai-santai saja lebih menderita daripada yang terus berusaha. Pasalnya, ia mengeluhkan usianya sementara yang lain bersyukur. Istirahat terwujud dalam kepadatan dan kepadatan terwujud dalam istirahat.[1]

Lalu perhatikan benda mati. Tampak padanya bahwa sesuatu yang memiliki potensi berusaha menuju kepada fase aksi. Dengan sunnatullah ia berusaha dengan cara yang menunjukkan bahwa padanya terdapat kerinduan dan kenikmatan. Engkau bisa melihat tetesan air bagaimana kalbunya berisi rasa rindu untuk melaksanakan perintah Tuhan. Yaitu dengan rasa rindu yang amat kuat, meski kondisinya lembut dan lemah, ia mampu membelah besi yang kuat saat mendengar perintah, “Mengembanglah wahai air dengan ijin Tuhan!” lewat lisan titik bekunya.
Bahkan semua usaha dan gerakan yang terdapat di alam, mulai dari goncangan atom hingga perputaran matahari, berjalan di atas ketentuan qadar. Ia bersumber dari tangan kekuasaan-Nya dan tampak lewat perintah penciptaan-Nya yang berisi pengetahuan, perintah, dan kehendak-Nya, serta qudrat-Nya pula. Lebih dari itu, setiap partikel, susunan, dan makhluk hidup laksana sejumlah pasukan yang mempunyai kaitan di wilayah masing-masing serta memiliki sejumlah tugas untuk sejumlah manfaat sebanyak ikatan di dalamnya. Misalnya partikel mata yang terdapat di sel matamu, di dalam matamu, di dalam syaraf wajahmu, dan urat-urat nadi di tubuhmu. Pada setiap ikatan dan tugas ia memiliki manfaat. Semuanya menjadi bukti keberadaan Tuhan Yang Mahakuasa dan azali lewat lisan ketidakberdayaannya dalam memikul sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Yaitu berupa tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dalam sistem alam pemeliharaan keseimbangan hukumnya. Pasalnya, keteraturan dan keseimbangan tersebut merupakan dua bab penting dari kitabul mubin. Misalnya, bagaimana mungkin partikel dan lebah bisa membaca kitab tersebut yang berada di tangan Zat yang melipat langit seperti melipat lembaran-lembaran buku.
--------------------------------
[1] Maksudnya, istirahat dan kesenangan terwujud dalam kepenatan, sementara kesempitan dan kepenatan terwujud dalam istirahat.
No Voice