Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 248
(1-357)
Bukankah perbuatan Tuhan Yang penuh hikmah ini menunjukkan bahwa Sang Pencipta boleh bahkan wajib menenun dari semua yang cepat pudar dalam perjalanan masa serta dari hari-hari yang mati, tahun-tahun yang berlalu, dan masa yang telah pergi berbagai tenunan gaib yang tak terlihat oleh mata serta tenunan ukhrawi lewat cawan malam dan siang, mentari dan bulan dalam silih bergantinya mereka dan pergantian musim?! Dia juga menenun dalam diri manusia yang merupakan indeks alam sesuatu yang mendukungnya. Dia mengabadikan setiap menit dari kehidupannya di masa lalu dan fana di antara rangkaian dan tulisan ingatannya. Sehingga fana dan mati di alam yang nyata dan sempit ini merupakan perpindahan abadi dan kekekalan murni dalam wilayah alam gaib. Kita bisa mendengar dari sumber wahyu bagaimana detik-detik usia manusia kembali kepada-Nya. Ia bisa gelap akibat kelalaian dan dosa, dan bisa pula terang oleh lentera kebaikan yang bergantung di rangkaian waktu tadi.

Ketahuilah! Di antara hikmah kreasi Sang Pencipta Yang Mahaindah dan Bijaksana dalam membentuk makhluk dalam ukuran kecil dan besar seperti yang terlihat pada hewan; terutama pada makhluk yang terbang dengan kedua sayapnya, ikan, malaikat, dan berbagai alam lainnya, mulai dari atom hingga mentari, Dia menjadikan yang kecil sebagai contoh miniatur dari yang besar. Hal itu untuk menjadi petunjuk, memudahkan berpikir, memudahkan untuk membaca tulisan qudrat, memperlihatkan kesempurnaan kekuasaan-Nya, serta memperlihatkan dua bentuk kreasi keindahan dan keagungan-Nya. Pasalnya, sebab-sebab yang tidak diketahui, yang kecil dan samar, bisa dilenyapkan oleh jelasnya huruf yang besar. Namun, sebab yang tidak diketahui yang sangat luas dan besar hanya bisa dijangkau dan dipahami oleh kedekatan huruf yang kecil. Nafsu ammarah yang belajar kepada setan melihat kecilnya sesuatu sebagai sebab meremehkan ciptaan sehingga menganggapnya bersumber dari sebab-sebab yang tuli dan buta. Sementara, pada yang besar dan terbentang ia menganggap tidak ada penulisan yang berdasarkan hikmah serta adanya kesia-siaan dan proses kebetulan.

Ketahuilah![1] Barangkali ada yang berkata, “Kedermawanan mutlak dan rezeki yang tak terbatas sesuai dengan prinsip kesia-siaan serta meniadakan keberadaan hikmah dari satu sisi?”

Sebagai jawabannya: ya, meski dibatasi pada satu tujuan, namun segala sesuatu terutama makhluk hidup memiliki tujuan yang beragam, buah yang bermacam-macam, dan berbagai tugas yang berbeda. Bukankah lisanmu memiliki tugas sebanyak rambut di kepalamu? Kedermawanan sebagai tujuan dan sebagai tugas tidaklah menafikan sisi hikmah dan keadilan jika melihat keberadaannya yang mengarah kepada sejumlah tujuan dan tugas. Ia sama seperti pasukan yang dipergunakan untuk menghukum penjahat atau melindungi rombongan tertentu misalnya. Dalam pasukan terdapat banyak eksistensi diukur dengan pengabdian kecil tadi di mana ada kewajiban untuk menjaga perbatasan dan tujuan-tujuan lainnya.

Ketahuilah! Manusia dapat diilustrasikan di balik jejak dan penciptaannya. Namun, dalam ciptaan Pencipta azali hal itu hanya bisa dilakukan dari balik tujuh puluh ribu hijab di balik ciptaan tadi. Andaikan engkau bisa melihat kepada keseluruhan ciptaan-Nya sekaligus tentu hijab-hijab gelap itu tersingkap, dan hanya hijab cahaya yang tersisa. Jalan terdekat terdapat dalam dirimu; bukan di cakrawala kecuali dengan kecintaan yang benar.
--------------------------------------------
[1] Persoalan yang halus ini, yaitu hikmah beragamnya tujuan, dijelaskan oleh catatan hakikat keenam dari risalah al-Hasyr (kebangkitan makhluk di hari akhir).
No Voice