Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 251
(1-357)
Pada waktu yang sama, ia menganggap dirinya sebagai pemberi petunjuk dan pengusung perbaikan. Ia datang kepada seseorang yang berada dalam kondisi mencekam. Pasalnya, di belakang orang tersebut terdapat seekor singa yang setiap waktu siap untuk menyerang. Di depan orang itu terdapat tiang eksekusi yang telah ditegakkan. Sementara, di sekitarnya ada luka dalam yang menganga serta bisul yang meletus. Lalu, di tangannya terdapat dua obat yang apabila dipergunakan dengan ijin Allah dua luka tadi berubah menjadi mawar merekah.
Pada lisan dan kalbunya terdapat balsem yang apabila dipergunakan, maka dengan perintah Allah singa tadi berubah menjadi kuda yang bisa ia tunggangi menuju kehadapan Tuannya yang Pemurah yang mengundangnya ke negeri kedamaian untuk menjamunya. Serta tali perpisahan dan salib yang terurai dari pohon kelenyapan dan kefanaan dengan kelembutan Allah berubah menjadi perangkat untuk jalan-jalan dan rekreasi serta untuk melihat berbagai pemandangan baru dan cermin yang terus berjalan dan berganti-ganti karena semakin bertambahnya kenikmatan hadirnya manifestasi keindahan Tuhan yang abadi sepanjang musim dan masa. Kenikmatan tersebut juga terus bertambah seiring dengan hadirnya berbagai anugerah dan nikmat sepanjang waktu. Kemudian orang mabuk tadi yang berada dalam kondisi sama berkata kepada orang tersebut, “Tinggalkan balsem ini, dan buanglah kedua obat itu! Mari kita bermain, bermain, menari, dan bernyanyi!” Orang itupun menjawab, “Aku sudah cukup senang dengan perlindungan dua balsem dan obat ini. Kenikmatan dan kebahagiaan hanya ada padanya. Jika mampu engkau bisa membunuh singa kematian yang hanya mati di sorga lalu mengangkat alat yang sudah dipancang ke tanah menuju langit dengan hukum milik Penguasa bumi. Atau, kau singkirkan perangkat kelenyapan lewat cara mengubah bumi dengan bumi yang lain.
Lalu, kau obati luka yang menggerogori keseluruhan hidupku dengan mengubah kehidupanku yang lemah dan fana dengan kehidupan abadi. Serta, kau lepaskan diriku dari bisul yang mengelilingi diriku dengan mengubah diriku yang fakir ini menjadi kekal dan kaya. Jika keempat hal di atas tidak kau miliki, wahai setan mabuk engkau tidak akan bisa menipu kecuali orang yang mabuk seperti dirimu di mana ia tidak bisa membedakan antara tangis dan tawa, antara lenyap dan abadi, antawa hawa nafsu dan petunjuk. Adapun diriku, cukuplah Allah bagiku. Dia Sebaik-baik pelindung dan penolong.” Demikian jika engkau memahami rahasia perumpamaan ini atau ingin melihat gambaran sebenarnya.
Ketahuilah! Murid-murid peradaban yang bodoh dan sesat, serta murid filsafat yang sakit dan menyesatkan, telah mabuk. Mereka datang menyeru kaum muslimin untuk mengikuti tradisi asing dan meninggalkan syiar-syiar yang berisi perasaan yang disinari oleh cahaya Islam. Maka, mara murid Alquran menghadapi mereka dengan berkata,
Pada lisan dan kalbunya terdapat balsem yang apabila dipergunakan, maka dengan perintah Allah singa tadi berubah menjadi kuda yang bisa ia tunggangi menuju kehadapan Tuannya yang Pemurah yang mengundangnya ke negeri kedamaian untuk menjamunya. Serta tali perpisahan dan salib yang terurai dari pohon kelenyapan dan kefanaan dengan kelembutan Allah berubah menjadi perangkat untuk jalan-jalan dan rekreasi serta untuk melihat berbagai pemandangan baru dan cermin yang terus berjalan dan berganti-ganti karena semakin bertambahnya kenikmatan hadirnya manifestasi keindahan Tuhan yang abadi sepanjang musim dan masa. Kenikmatan tersebut juga terus bertambah seiring dengan hadirnya berbagai anugerah dan nikmat sepanjang waktu. Kemudian orang mabuk tadi yang berada dalam kondisi sama berkata kepada orang tersebut, “Tinggalkan balsem ini, dan buanglah kedua obat itu! Mari kita bermain, bermain, menari, dan bernyanyi!” Orang itupun menjawab, “Aku sudah cukup senang dengan perlindungan dua balsem dan obat ini. Kenikmatan dan kebahagiaan hanya ada padanya. Jika mampu engkau bisa membunuh singa kematian yang hanya mati di sorga lalu mengangkat alat yang sudah dipancang ke tanah menuju langit dengan hukum milik Penguasa bumi. Atau, kau singkirkan perangkat kelenyapan lewat cara mengubah bumi dengan bumi yang lain.
Lalu, kau obati luka yang menggerogori keseluruhan hidupku dengan mengubah kehidupanku yang lemah dan fana dengan kehidupan abadi. Serta, kau lepaskan diriku dari bisul yang mengelilingi diriku dengan mengubah diriku yang fakir ini menjadi kekal dan kaya. Jika keempat hal di atas tidak kau miliki, wahai setan mabuk engkau tidak akan bisa menipu kecuali orang yang mabuk seperti dirimu di mana ia tidak bisa membedakan antara tangis dan tawa, antara lenyap dan abadi, antawa hawa nafsu dan petunjuk. Adapun diriku, cukuplah Allah bagiku. Dia Sebaik-baik pelindung dan penolong.” Demikian jika engkau memahami rahasia perumpamaan ini atau ingin melihat gambaran sebenarnya.
Ketahuilah! Murid-murid peradaban yang bodoh dan sesat, serta murid filsafat yang sakit dan menyesatkan, telah mabuk. Mereka datang menyeru kaum muslimin untuk mengikuti tradisi asing dan meninggalkan syiar-syiar yang berisi perasaan yang disinari oleh cahaya Islam. Maka, mara murid Alquran menghadapi mereka dengan berkata,
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence