Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 252
(1-357)
“Wahai kaum yang sesat dan lalai. Jika kalian mampu mengangkat kefanaan dan kematian dari dunia, serta kelemahan dan kemiskinan dari manusia kalian boleh merasa tidak butuh kepada agama dan syiar-syiarnya. Namun jika tidak, maka menyingkirlah dan tinggalkan semua bisikan dan seruan kalian. Ayat-ayat penciptaan menyeru dengan suaranya yang paling nyaring untuk berpegang kepada agama berikut semua syiarnya,
Apabila Alquran dibacakan, perhatikan dan dengarkanlah ia semoga kalian mendapat rahmat.[1]
Ya. Jika di belakangku terdapat singa ajal yang senantiasa mengancamku, maka apabila aku mendengar gema Alquran dengan landasan iman, singa tadi berubah menjadi kuda, perpisahan berubah menjadi kilat yang mengantarku kepada rahmat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta kepada Tuhan Yang Mahakasih dan Pemurah. Jika tidak, kematian menjadi singa buas yang bisa mengoyakku serta memisahkan diriku dari semua orang yang kucintai selama-lamanya. Selain itu, di hadapanku terdapat perangkat fana yang dipancang sepanjang siang dan malam, berikut perangkat kebinasaan dan perpisahan yang tegak sepanjang masa. Semua perangkat tadi ditegakkan untuk menyalibku dan semua orang yang kucinta. Maka, apabila engkau memperhatikan petunjuk Alquran dengan penuh keyakinan, semua alat dan perangkat tadi berubah menjadi perahu tamasya dan rekreasi di sungai zaman dan lautan dunia guna menyaksikan kemunculan manifestasi qudrat-Nya sepanjang masa dengan mesin mentari, perjalanan bulan, dan perputaran bumi untuk berbalut dengan balutan malam dan siang serta untuk memakai baju perhiasan musim panas dan dingin. Rekreasi tadi juga dilakukan untuk menyaksikan kehadiran manifestasi nama-Nya dalam berbagai bentuk dan cermin yang terus berubah sepanjang siang dan malam.
Demikianlah! Di kedua sisi kananku yang berupa kemiskinan tak terbatas terdapat bisul yang menggerogoti. Di samping aku lebih lemah dari hewan yang paling lemah, aku juga lebih miskin dari semua hewan. Dengan kata lain, kebutuhan maknawiyah dan materiku sama dengan kebutuhan semuanya, sementara kemampuanku kalah dari burung pipit sekalipun. Jika aku berobat dengan obat Alquran, maka kemiskinan yang pedih tadi berubah menjadi rasa rindu yang nikmat lantaran mendapatkan jamuan Tuhan, serta munculnya selera untuk memakan buah rahmat Zat Yang Pengasih dan Penyayang. Lezatnya kemiskinan dan ketidakberdayaan jauh lebih terasa ketimbang lezatnya kekayaan dan kekuatan. Jika tidak, pasti aku terus berada dalam derita akibat berbagai kebutuhan serta dalam hinanya meminta-minta dan menyembah kepada pihak yang bisa memenuhi kebutuhanku.
---------------------------
[1] Q.S. al-A’raf: 204.
Apabila Alquran dibacakan, perhatikan dan dengarkanlah ia semoga kalian mendapat rahmat.[1]
Ya. Jika di belakangku terdapat singa ajal yang senantiasa mengancamku, maka apabila aku mendengar gema Alquran dengan landasan iman, singa tadi berubah menjadi kuda, perpisahan berubah menjadi kilat yang mengantarku kepada rahmat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta kepada Tuhan Yang Mahakasih dan Pemurah. Jika tidak, kematian menjadi singa buas yang bisa mengoyakku serta memisahkan diriku dari semua orang yang kucintai selama-lamanya. Selain itu, di hadapanku terdapat perangkat fana yang dipancang sepanjang siang dan malam, berikut perangkat kebinasaan dan perpisahan yang tegak sepanjang masa. Semua perangkat tadi ditegakkan untuk menyalibku dan semua orang yang kucinta. Maka, apabila engkau memperhatikan petunjuk Alquran dengan penuh keyakinan, semua alat dan perangkat tadi berubah menjadi perahu tamasya dan rekreasi di sungai zaman dan lautan dunia guna menyaksikan kemunculan manifestasi qudrat-Nya sepanjang masa dengan mesin mentari, perjalanan bulan, dan perputaran bumi untuk berbalut dengan balutan malam dan siang serta untuk memakai baju perhiasan musim panas dan dingin. Rekreasi tadi juga dilakukan untuk menyaksikan kehadiran manifestasi nama-Nya dalam berbagai bentuk dan cermin yang terus berubah sepanjang siang dan malam.
Demikianlah! Di kedua sisi kananku yang berupa kemiskinan tak terbatas terdapat bisul yang menggerogoti. Di samping aku lebih lemah dari hewan yang paling lemah, aku juga lebih miskin dari semua hewan. Dengan kata lain, kebutuhan maknawiyah dan materiku sama dengan kebutuhan semuanya, sementara kemampuanku kalah dari burung pipit sekalipun. Jika aku berobat dengan obat Alquran, maka kemiskinan yang pedih tadi berubah menjadi rasa rindu yang nikmat lantaran mendapatkan jamuan Tuhan, serta munculnya selera untuk memakan buah rahmat Zat Yang Pengasih dan Penyayang. Lezatnya kemiskinan dan ketidakberdayaan jauh lebih terasa ketimbang lezatnya kekayaan dan kekuatan. Jika tidak, pasti aku terus berada dalam derita akibat berbagai kebutuhan serta dalam hinanya meminta-minta dan menyembah kepada pihak yang bisa memenuhi kebutuhanku.
---------------------------
[1] Q.S. al-A’raf: 204.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence