Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 254
(1-357)
Bismillâhirrahmânirrahîm
Demi buah tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai dan dan demi kota (Mekah) ini yang aman. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.[1]
Ketahuilah! [2] Kerapian penciptaan dan kesempurnaanya dalam segala hal menunjukkan bahwa Pencipta seluruhnya di samping berada pada semua di setiap tempat; namun Dia tidak berada di sebuah tempat dan tidak berada pada sesuatu.
Lantaran butuh kepada segala sesuatu, mulai dari bagian yang paling kecil hingga yang paling besar, manusia hanya layak menyembah Zat yang di tangan-Nya tergenggam kerajaan segala sesuatu dan Zat yang pada-Nya terdapat perbendaharaan segala sesuatu.
Jiwa manusia dilihat dari sisi eksistensi, penghadiran, kebaikan, dan perbuatan sangatlah kecil, kurang, dan cacat. Ia lebih kecil dari semut dan lebah dan lebih lemah daripada laba-laba dan nyamuk. Sementara, dari sisi ketiadaan, kerusakan, kejahatan, dan emosi, ia lebih besar dari langit, bumi, dan gunung. Misalnya jika berbuat baik, ia berbuat baik lewat apa yang bisa ditampung oleh tangannya dan dicapai oleh kekuatan pribadinya. Namun, jika berbuat buruk, ia berbuat buruk lewat sesuatu yang melampaui batas.
Dengan dosa kekufuran, ia merendahkan semua entitas dengan menurunkan nilainya dari puncak keberadaannya yang merupakan tulisan Rabbaniyah dan cermin ilahiyah menuju tanah kerendahan di mana ia diposisikan sebagai materi yang cepat lenyap dan pergi serta dipermainkan oleh proses kebetulan dan kesia-siaan. Hal itu menjatuhkan manusia yang merupakan untaian rapi dan seimbang dari manifestasi nama-nama-Nya, benih pohon keabadian, dan khalifah yang mengungguli semua entitas besar dengan pemikulan amanah, menuju tingkatan yang menjadikannya lebih rendah dari hewan yang lenyap dan fana, sekaligus lebih lemah, lebih papa, dan lebih miskin.
Selain itu, dari sisi ego, manusia memiliki pilihan laksana sehelai rambut, kemampuan laksana partikel, kehidupan laksana percikan api, serta eksistensi yang berupa bagian kecil dari spesies yang tak terhingga. Namun, dari sisi kelemahan dan kemiskinannya, ia memiliki kapasitas besar. Pasalnya, kelemahan besarnya yang tak terhingga, kemiskinannya yang tak terkira membuatnya dapat menjadi cermin luas dari manifestasi Zat Yang Mahakuasa dan Mahakaya.
Selanjutnya, dari sisi kehidupan dunia yang materi dan hewani, manusia seperti benih. Berbagai perangkat yang diberikan kepadanya untuk menjadi bulir dan pohon dialihkan untuk mendapatkan materi yang cepat punah di sempitnya tanah hingga akhirnya hancur tanpa guna. Dari sisi kehidupan maknawi, ia seperti pohon abadi yang ranting-ranting harapannya membentang menuju keabadian.
----------------------
[1] Q.S at-Tin.
[2] Pelajaran kesembilan dari “Pengantar Menuju Cahaya”. Penjelasannya terdapat pada kata kedua puluh tiga.
Demi buah tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai dan dan demi kota (Mekah) ini yang aman. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.[1]
Ketahuilah! [2] Kerapian penciptaan dan kesempurnaanya dalam segala hal menunjukkan bahwa Pencipta seluruhnya di samping berada pada semua di setiap tempat; namun Dia tidak berada di sebuah tempat dan tidak berada pada sesuatu.
Lantaran butuh kepada segala sesuatu, mulai dari bagian yang paling kecil hingga yang paling besar, manusia hanya layak menyembah Zat yang di tangan-Nya tergenggam kerajaan segala sesuatu dan Zat yang pada-Nya terdapat perbendaharaan segala sesuatu.
Jiwa manusia dilihat dari sisi eksistensi, penghadiran, kebaikan, dan perbuatan sangatlah kecil, kurang, dan cacat. Ia lebih kecil dari semut dan lebah dan lebih lemah daripada laba-laba dan nyamuk. Sementara, dari sisi ketiadaan, kerusakan, kejahatan, dan emosi, ia lebih besar dari langit, bumi, dan gunung. Misalnya jika berbuat baik, ia berbuat baik lewat apa yang bisa ditampung oleh tangannya dan dicapai oleh kekuatan pribadinya. Namun, jika berbuat buruk, ia berbuat buruk lewat sesuatu yang melampaui batas.
Dengan dosa kekufuran, ia merendahkan semua entitas dengan menurunkan nilainya dari puncak keberadaannya yang merupakan tulisan Rabbaniyah dan cermin ilahiyah menuju tanah kerendahan di mana ia diposisikan sebagai materi yang cepat lenyap dan pergi serta dipermainkan oleh proses kebetulan dan kesia-siaan. Hal itu menjatuhkan manusia yang merupakan untaian rapi dan seimbang dari manifestasi nama-nama-Nya, benih pohon keabadian, dan khalifah yang mengungguli semua entitas besar dengan pemikulan amanah, menuju tingkatan yang menjadikannya lebih rendah dari hewan yang lenyap dan fana, sekaligus lebih lemah, lebih papa, dan lebih miskin.
Selain itu, dari sisi ego, manusia memiliki pilihan laksana sehelai rambut, kemampuan laksana partikel, kehidupan laksana percikan api, serta eksistensi yang berupa bagian kecil dari spesies yang tak terhingga. Namun, dari sisi kelemahan dan kemiskinannya, ia memiliki kapasitas besar. Pasalnya, kelemahan besarnya yang tak terhingga, kemiskinannya yang tak terkira membuatnya dapat menjadi cermin luas dari manifestasi Zat Yang Mahakuasa dan Mahakaya.
Selanjutnya, dari sisi kehidupan dunia yang materi dan hewani, manusia seperti benih. Berbagai perangkat yang diberikan kepadanya untuk menjadi bulir dan pohon dialihkan untuk mendapatkan materi yang cepat punah di sempitnya tanah hingga akhirnya hancur tanpa guna. Dari sisi kehidupan maknawi, ia seperti pohon abadi yang ranting-ranting harapannya membentang menuju keabadian.
----------------------
[1] Q.S at-Tin.
[2] Pelajaran kesembilan dari “Pengantar Menuju Cahaya”. Penjelasannya terdapat pada kata kedua puluh tiga.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence