Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 256
(1-357)
Bismillâhirrahmânirrahîm
Wahai manusia, kalian fakir kepada Allah.[1]
Berlarilah menuju Allah.[2]
Wahai manusia, kalian fakir kepada Allah.[1]
Berlarilah menuju Allah.[2]
Ketahuilah wahai Said yang terbatas, lemah, dan miskin. Dalam dirimu terdapat kekurangan tak terkira, kelemahan tak terhingga, kemiskinan tak berujung, kebutuhan tak terbatas, dan harapan tak terhitung. Sebagaimana dalam dirimu ditanamkan rasa lapar dan haus untuk mengetahui lezat nikmat-Nya, demikian pula kekurangan, kefakiran, kelemahan, dan raswa butuh dipasang agar dengan teropong kekuranganmu engkau bisa melihat paviliun kesempurnaan-Nya, dengan ukuran kefakiranmu engkau bisa melihat tingkat kekayaan dan rahmat-Nya, dengan neraca kelemahanmu engkau bisa melihat kekuasaan dan kebesaran-Nya, serta dari beragam kebutuhanmu engkau bisa melihat aneka nikmat dan kebaikan-Nya.
Tujuan fitrahmu adalah ubudiyah. Sementara, ubudiyah adalah kau tampakkan di hadapan pintu rahmat-Nya:
- Kekuranganmu dengan astaghfirullah dan subhanallâh
- Kefakiranmu dengan hasbunallâh, alhamdulilâh, dan berdoa
- Kelemahanmu dengan lâ hawlâ walâ quwata billâh, Allahu Akbar, dan meminta pertolongan-Nya.
Maka, dengan cermin ubudiyah-Mu engkau memperlihatkan keindahan rububiyah-Nya.
Bismillâhirrahmânirrahîm
Orang-orang yang banyak berbakti berada dalam sorga yang penuh kenikmatan, sementara orang-orang yang durhaka berada dalam neraka.[3]
Ketahuilah wahai Said yang lalai, segala sesuatu dalam perjalanan hidupnya memiliki dua jalan menuju kubur. Dua jalan tersebut sama dilihat dari sisi pendek dan panjangnya.
Hanya saja, salah satu darinya di samping tidak berbahaya, juga memberikan manfaat besar dengan kesaksian para saksi yang mutawatir dan kesepakatan mereka. Dari sepuluh orang yang melewatinya sembilan yang bisa meraih manfaat besar tersebut.
Sementara, jalan yang satunya di samping tidak memberikan manfaat, ia mengandung bahaya besar menurut kesepakatan para ahli dan kalangan yang telah menyaksikan. Kemungkinan bahayanya sembilan dari sepuluh. Hanya saja, orang yang melewati jalan ini tidak membawa senjata dan bekal. Secara lahir ia tampak ringan dan bebas dari beban. Namun di atas punggung kalbunya ia memikul seratus hutang budi dan jiwanya memikul rasa takut dan cemas. Nah, karena perumpamaan akan membuat sesuatu yang rasional lebih bisa ditangkap, kami akan memberikan perumpamaan terhadap hakikat ini:
---------------------------
[1] Q.S. Fâthir: 5.
[2] Q.S. adz-Dzâriyât: 50.
[3] Q.S. al-Infithâr: 13-14.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence