Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 259
(1-357)
Di masa lalu ada dua orang bersaudara. Keduanya pergi berjalan hingga akhirnya jalan terbagi dua: pada salah salah satunya terdapat beban karena harus mengikuti sejumlah rambu, sementara yang lain secara lahir tampak ringan. Yang memiliki akhlak terpuji memilih sisi kanan meski ada sedikit beban yang harus ditunaikan. Sebaliknya, yang memiliki akhlak buruk memilih sisi kiri karena bebas dari beban. Yang berada di sisi kiri melewati sejumlah padang hingga akhirnya masuk ke padang pasir yang kosong. Ia mendengar suara yang mengagetkan. Ternyata ada sebuah singa yang siap untuk menyerangnya. Iapun berlari sampai bertemu dengan sebuah sumur sedalam enam puluh hasta. Ia melompat ke dalamnya dan jatuh sedalam tiga puluh hasta. Tangannya memegang sebuah pohon yang berada di dindingnya. Pohon tersebut memiliki dua cabang. Namun, ada dua tikus putih dan hitam yang bertengger di pohon itu di mana keduanya sedang memakan kedua batang tadi. Lalu ketika melihat ke bawah terdapat sebuah ular besar. Ular tersebut mengangkat kepalanya mendekati kaki orang tadi. Luas mulutnya sebesar lubang sumur. Orang itupun melihat sejumlah sisi di sekitarnya. Terdapat sejumlah serangga berbahaya dan mengganggu. Pohon tempat ia bergantung adalah pohon tin. Namun, menghasilkan buah yang beragam. Ketika cemas melihat kondisi yang ada, ia bersikap masa bodoh dan membiarkan suara jiwanya. İa anggap dirinya sedang berada di sebuah kebun. Maka sesuai dengan bunyi hadits, “Aku menurut prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku” ia diperlakukan sesuai anggapannya tadi. Ia terus berada dalam kondisi menakutkan tadi tidak mati dan tidak pula hidup. Dengan pemahamannya yang keliru, orang malang tersebut tidak mengerti kalau semua teka-teki yang ada tidak terjadi secara kebetulan.
Sekarang kita meninggalkan orang sial tadi yang sedang tersiksa. Kita pergi menuju saudaranya yang berada di sisi kanan. Ia pergi secara tenang dan santai dengan perasangka baiknya yang muncul dari perilaku terpujinya. Lihat bagaimana dengan pandangannya yang bagus ia mendapatkan keuntungan yang tidak didapat saudaranya tadi. Di jalan ia bertemu dengan sebuah kebun berisi buah dan bunga, di samping kotoran dan bangkai. Ia membersihkan diri dengan sesuatu yang baik tanpa melihat hal-hal kotor dan buruk seperti saudaranya. Kemudian ia pergi sampai akhirnya masuk ke sebuah padang pasir yang kosong. Ia mendengar suara singa yang menyerang. Namun tidak sampai seperti yang terjadi pada saudaranya. Kelihatannya singa tersebut mendapat perintah dari penguasa padang pasir. Ia berlari dan menemukan sebuah sumur sedalam enam puluh hasta. Ia melemparkan diri ke dalam sumur dan tersangkut di tengah sumur pada sebuah pohon yang memiliki dua batang. Terdapat dua tikus yang sedang memotong kedua batang tadi. Di atas ia melihat singa, sementara di bawah ia melihat ular besar yang mulutnya sebesar lubang sumur. Ular tersebut mendekati kakinya. Ia ketakutan, namun ketakutannya jauh lebih ringan dibandingkan dengan yang dirasakan saudaranya.
Sekarang kita meninggalkan orang sial tadi yang sedang tersiksa. Kita pergi menuju saudaranya yang berada di sisi kanan. Ia pergi secara tenang dan santai dengan perasangka baiknya yang muncul dari perilaku terpujinya. Lihat bagaimana dengan pandangannya yang bagus ia mendapatkan keuntungan yang tidak didapat saudaranya tadi. Di jalan ia bertemu dengan sebuah kebun berisi buah dan bunga, di samping kotoran dan bangkai. Ia membersihkan diri dengan sesuatu yang baik tanpa melihat hal-hal kotor dan buruk seperti saudaranya. Kemudian ia pergi sampai akhirnya masuk ke sebuah padang pasir yang kosong. Ia mendengar suara singa yang menyerang. Namun tidak sampai seperti yang terjadi pada saudaranya. Kelihatannya singa tersebut mendapat perintah dari penguasa padang pasir. Ia berlari dan menemukan sebuah sumur sedalam enam puluh hasta. Ia melemparkan diri ke dalam sumur dan tersangkut di tengah sumur pada sebuah pohon yang memiliki dua batang. Terdapat dua tikus yang sedang memotong kedua batang tadi. Di atas ia melihat singa, sementara di bawah ia melihat ular besar yang mulutnya sebesar lubang sumur. Ular tersebut mendekati kakinya. Ia ketakutan, namun ketakutannya jauh lebih ringan dibandingkan dengan yang dirasakan saudaranya.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence