Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 257
(1-357)
Engkau ingin pergi ke Istambul atau diutus ke sana. Dari tempatmu menuju ke sana terdapat dua jalan: kanan dan kiri yang panjang dan pendeknya sama. Hanya saja keduanya berbeda dari segi manfaat dan bahaya, ringan dan beratnya. Di sisi kanan terdapat manfaat besar tanpa ada bahaya, juga perlu membawa senjata dan bekal sebanyak karunia yang ada disertai keterlepasan jiwa dan kalbu dari beban memikul rasa takut. Di sisi kiri terdapat bahaya menurut kesaksian jutaan ahli dan saksi tanpa ada manfaat disertai tidak adanya beban lahiriah dengan melepas senjata yang tajam dan tidak membawa bekal yang paling nikmat. Namun, sebagai ganti dari senjata jiwanya membawa timbunan rasa takut dan sebagai ganti dari bekal, kalbunya memikul seratus beban. Para saksi yang jujur memberitahukan bahwa mereka yang dengan iman pergi melewati sisi kanan berada dalam keamanan dan keselamatan sepanjang perjalanan mereka. Ketika sampai di negeri yang dituju sembilan dari sepuluh orang yang ada mendapatkan manfaat dan keuntungan besar.
Sementara, orang-orang yang dengan noda kesesatan, kemalasan, dan kebodohan melewati sisi kiri. Sepanjang perjalanan mereka berada dalam kondisi risau dan cemas. Karena cemas dengan kelemahannya, orang yang melewati jalan tersebut singgah di setiap tempat dan memelas kepada segala sesuatu akibat rasa butuh. Ketika sampai di negeri tujuan, mereka ditahan dan dibunuh. Yang selamat hanya satu atau dua. Orang yang memiliki sedikit akal saja pasti tidak akan memilih sesuatu yang mengandung kemungkinan bahaya daripada yang tidak mengandung bahaya lantaran ringan yang sedikit. Bagaimana ia mengutamakan sesuatu yang kemungkinan besar mengandung bahaya daripada sesuatu yang sembilan puluh sembilan persen berpeluang memberikan manfaat hanya karena secara lahiriah tidak ada beban padahal sebenarnya mengandung beban berat?!
Musafir tersebut adalah dirimu. Adapun Istambulnya adalah alam barzakh dan akhirat. Adapun jalan kanan adalah jalan Alquran yang memerintahkan salat sesudah iman. Sementara, jalan kiri adalah jalan orang-orang fasik dan tiran. Selanjutnya para ahli dan saksi adalah wali yang menyaksikan. Pasalnya, mereka pemilik kewalian dan memiliki cita rasa penyaksian terhadap hakikat Islam. Senjata dan bekalnya berupa tugas yang berisi ibadah seperti salat yang mengandung kalimat tauhid yang mencakup titik kebersandaraan yang berisi tawakkal kepada Zat Yang Mahakuasa, Maha Menjaga, Maha Mengetahui, Mahakaya, Maha Pemurah, dan Maha Penyayang. Maka, ia selamat dari sikap tunduk dan merendah kepada segala sesuatu yang mengandung bahaya dan manfaat. Pasalnya, lâ ilâha illallâh bermakna tidak ada yang bisa memberikan manfaat dan bahaya kecuali Dia. Manfaat dan bahaya hanya terwujud dengan ijin-Nya.
Bismillâhirrahmânirrahîm

Kehidupan dunia tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sementara negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.[1]

Ketahuilah wahai Said yang sedang berjalan menuju masa tua, menuju kubur, menuju mahsyar, dan menuju keabadian. Usia yang diberikan Tuhan kepadamu adalah untuk meraih kebutuhan dalam dua kehidupan sesuai dengan panjang dan pendeknya. Namun, engkau telah menghabiskan semuanya di kehidupan yang fana ini yang laksana setetes fatamorgana jika diukur dengan lautan. Jika engkau memiliki akal, alokasikan setengah atau sepertiganya, tidak kurang, untuk kehidupan abadi. Anehnya, orang yang bodoh sepertimu justru disebut berakal dan cerdas.
--------------------------------
[1] Q.S. al-Ankabut: 64.
No Voice