Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 255
(1-357)
Lalu, dari sisi perbuatan dan usaha materi, manusia adalah hewan yang lemah dan tak berdaya. İa memiliki wilayah yang sempit yang setengah teritorialnya berupa bentangan tangannya. Dari sisi doa dan permintaan, ia adalah tamu Tuhan yang mulia yang perbendaharaan rahmat-Nya dibukakan untuknya serta kreasi indah-Nya dihamparkan untuknya. Ia memiliki wilayah agung yang setengah teritorialnya berupa bentangan pandangannya; bahkan hayalannya, bahkan lebih luas daripada itu.
Manusia dari sisi kesenangan hidup hewani berikut kesempurnaannya, keselamatannya, dan kekokohannya seratus tingkat lebih rendah dari burung pipit karena kenikmatannya dinodai oleh berbagai kesedihan masa lalu dan rasa cemas terhadap masa depan. Dari sisi organ, bagian-bagian indera, keragaman perasaan, keterhamparaan perangkat, banyaknya potensi, semua ini menunjukkan bahwa tugas asli manusia adalah menyaksikan tasbih entitas, bersaksi atasnya, serta meneliti dengan bertafakkur, merenungkannya, meminta kebutuhannya, serta mengabdi lewat tingkat kelemahan, kemiskinan dan keterbatas. Dari sisi integralitas potensinya yang disiapkan untuk berbagai ibadah seratus tingkat lebih mulia daripada burung pipit. Maka, secara aksioma, orang berakal bisa mengetahui bahwa semua perangkat ini tidak diberikan untuk kehidupan ini; namun untuk kehidupan abadi. Misalnya, jika kita melihat seseorang memberikan kepada salah seorang pelayannya sebanyak sepuluh dinar untuk membeli pakaian dari bahan khusus yang harganya paling tinggi sepuluh dinar. Kemudian ketika orang tadi memberikan kepada pelayan lain seribu dinar untuk membeli pakaian. Sudah pasti hal itu bukan untuk membeli pakaian dari bahan yang harga maksimalnya sepuluh dinar. Tetapi, ia diberikan untuk membeli yang harganya seratus kali lebih mahal. Namun, kalau karena kebodohannya uang seribu dinar tadi dibelikan pakaian dari bahan yang sama padahal ia seratus kali lebih murah, maka pastilah mendapat hukuman yang keras.
Manusia, dengan kekuatan kelemahannya dan qudrat ketidakberdayaannya, jauh lebih kuat dan lebih kuasa. Pasalnya, dengan doa dan permintaannya, dihamparkan untuknya sesuatu yang tidak bisa digapai dengan kekuatannya. Ia seperti anak kecil yang dengan tangisnya bisa mendapatkan sesuatu yang tak bisa dicapai dengan ribuan kali kekuatannya. Jadi ia bisa menguasai lewat penundukan Tuhan; bukan dengan cara mengalahkan, merampas, dan sebagainya. Maka itu, ia harus memperlihatkan kelemahan, ketidakberdayaan, kemiskinan, dan kepapahannya dengan cara meminta tolong, bersimpuh, dan menampakkan penghambaan.
Manusia, dari sisi teropongnya terhadap keindahan kesempurnaan kekuasaan rububiyah, dalilnya tentang manifestasi nama-nama-Nya, pemahamannya lewat mengecap simpanan kekayaan rahmat-Nya, pengetahuannya lewat cara menimbang permata perbendaharaan nama yang terlihat, perenungannya dengan cara mencermati tulisan pena ketentuan-Nya, rasa rindunya lewat cara melihat kehalusan ciptaan-Nya, dari sisi ini manusia merupakan makhluk termulia dan khalifah di muka bumi.
Manusia dari sisi kesenangan hidup hewani berikut kesempurnaannya, keselamatannya, dan kekokohannya seratus tingkat lebih rendah dari burung pipit karena kenikmatannya dinodai oleh berbagai kesedihan masa lalu dan rasa cemas terhadap masa depan. Dari sisi organ, bagian-bagian indera, keragaman perasaan, keterhamparaan perangkat, banyaknya potensi, semua ini menunjukkan bahwa tugas asli manusia adalah menyaksikan tasbih entitas, bersaksi atasnya, serta meneliti dengan bertafakkur, merenungkannya, meminta kebutuhannya, serta mengabdi lewat tingkat kelemahan, kemiskinan dan keterbatas. Dari sisi integralitas potensinya yang disiapkan untuk berbagai ibadah seratus tingkat lebih mulia daripada burung pipit. Maka, secara aksioma, orang berakal bisa mengetahui bahwa semua perangkat ini tidak diberikan untuk kehidupan ini; namun untuk kehidupan abadi. Misalnya, jika kita melihat seseorang memberikan kepada salah seorang pelayannya sebanyak sepuluh dinar untuk membeli pakaian dari bahan khusus yang harganya paling tinggi sepuluh dinar. Kemudian ketika orang tadi memberikan kepada pelayan lain seribu dinar untuk membeli pakaian. Sudah pasti hal itu bukan untuk membeli pakaian dari bahan yang harga maksimalnya sepuluh dinar. Tetapi, ia diberikan untuk membeli yang harganya seratus kali lebih mahal. Namun, kalau karena kebodohannya uang seribu dinar tadi dibelikan pakaian dari bahan yang sama padahal ia seratus kali lebih murah, maka pastilah mendapat hukuman yang keras.
Manusia, dengan kekuatan kelemahannya dan qudrat ketidakberdayaannya, jauh lebih kuat dan lebih kuasa. Pasalnya, dengan doa dan permintaannya, dihamparkan untuknya sesuatu yang tidak bisa digapai dengan kekuatannya. Ia seperti anak kecil yang dengan tangisnya bisa mendapatkan sesuatu yang tak bisa dicapai dengan ribuan kali kekuatannya. Jadi ia bisa menguasai lewat penundukan Tuhan; bukan dengan cara mengalahkan, merampas, dan sebagainya. Maka itu, ia harus memperlihatkan kelemahan, ketidakberdayaan, kemiskinan, dan kepapahannya dengan cara meminta tolong, bersimpuh, dan menampakkan penghambaan.
Manusia, dari sisi teropongnya terhadap keindahan kesempurnaan kekuasaan rububiyah, dalilnya tentang manifestasi nama-nama-Nya, pemahamannya lewat mengecap simpanan kekayaan rahmat-Nya, pengetahuannya lewat cara menimbang permata perbendaharaan nama yang terlihat, perenungannya dengan cara mencermati tulisan pena ketentuan-Nya, rasa rindunya lewat cara melihat kehalusan ciptaan-Nya, dari sisi ini manusia merupakan makhluk termulia dan khalifah di muka bumi.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence