Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 261
(1-357)
Buahnya berupa nikmat duniawi yang menyerupai buah sorga. Sementara yang beracun darinya adalah yang terlarang. Misterinya adalah rahasia hikmah penciptaan dan kuncinya adalah, “Allah. Tiada Tuhan selain Dia Yang Mahahidup dan Maha Berdiri sendiri.”[1]
Yakni, “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku dan ridha-Mu adalah tujuanku.” Tiada Tuhan selain Allah. Selanjutnya, berubahnya mulut ular menjadi pintu taman karena kuburan bagi Ahlul Quran dan orang beriman adalah pintu menuju rahmat Tuhan di dalam terowongan sorga. Sementara, bagi kaum yang sesat dan lalim terdapat pintu menuju gelapnya kesendirian dalam barzakh penjara laksana perut ular. Berubahnya singa buas menjadi kuda yang jinak adalah karena kematian bagi orang sesat merupakan perpisahan abadi dengan semua kekasih serta pengusiran dari sorga palsu duniawi menuju penjara kubur dalam kesendirian. Adapun bagi orang yang mendapat petunjuk, ia adalah jembatan menuju kekasih, kembali ke kampung halaman, dan keluar dari penjara dunia menuju taman sorga untuk mendapatkan upah pengabdian dari kemurahan Zat Yang Mahakasih, Maha Memberi, Maha Membalas, dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Dia.
Ketahuilah[2] wahai Said yang tertipu dan bangga dengan sesuatu yang tidak kau perbuat. Engkau tidak berhak berbangga dan lupa diri. Pasalnya, yang berasal darimu adalah kekurangan dan keburukan. Kalaupun ada kebaikan maka sifatnya parsial sama seperti bagian kehendakmu. Namun dengan bagian kehendakmu itupun engkau melakukan keburukan secara total. Pasalnya, dengan kekuranganmu engkau menjatuhkan buah dari semua sebab yang mengarah kepada tujuanmu. Karena itu, semestinya engkau merasa rugi dan malu. Namun sebaliknya, englau malah bersikap seperti Firaun.
Perumpamaanmu dalam hal ini seperti orang tertipu yang bodoh yang menjadi sekutu bagi rombongan dagang di kapal. Setiap orang melaksanakan tugasnya. Akan tetapi, ia meninggalkan tugasnya menggerakkan kapal sehingga tenggelam. Akhirnya mereka mengalami kerugian sebanyak seribu dinar. Orang itupun disalahkan, “Engkau harus membayar kerugian yang ada.” “Tidak. Tetapi kita harus berbagi. Aku hanya akan membayar sesuai bagianku,” jawabnya. Lalu pada perjalanan lain, ia melakukan seperti yang mereka lakukan sehingga mendapatkan keuntungan sebanyak seribu dinar. Lalu ada yang berkata kepadanya, “Laba ini harus dibagi sesuai modal.” “Tidak, semua laba adalah untukku. Jika pada kali pertama kalian menyuruhku membayar semua kerugian, maka semua keuntungan juga untukku,” jawabnya. Maka, iapun dicela, “Wahai orang bodoh!” “Wujud bergantung kepada keberadaan semua elemen. Buah wujud atau eksitensi memberikan kepada semua. Keuntungan tersebut aalah wujud. Sementara, kerugian adalah buah ketiadaan padahal semua tiada dengan ketiadaan satu bagian dan dengan tidak adanya satu syarat.
--------------------------------
[1] Q.S. al-Baqarah: 255.
[2] Pelajaran keenam dari “Pengantar Menuju Cahaya”.
Yakni, “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku dan ridha-Mu adalah tujuanku.” Tiada Tuhan selain Allah. Selanjutnya, berubahnya mulut ular menjadi pintu taman karena kuburan bagi Ahlul Quran dan orang beriman adalah pintu menuju rahmat Tuhan di dalam terowongan sorga. Sementara, bagi kaum yang sesat dan lalim terdapat pintu menuju gelapnya kesendirian dalam barzakh penjara laksana perut ular. Berubahnya singa buas menjadi kuda yang jinak adalah karena kematian bagi orang sesat merupakan perpisahan abadi dengan semua kekasih serta pengusiran dari sorga palsu duniawi menuju penjara kubur dalam kesendirian. Adapun bagi orang yang mendapat petunjuk, ia adalah jembatan menuju kekasih, kembali ke kampung halaman, dan keluar dari penjara dunia menuju taman sorga untuk mendapatkan upah pengabdian dari kemurahan Zat Yang Mahakasih, Maha Memberi, Maha Membalas, dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Dia.
Ketahuilah[2] wahai Said yang tertipu dan bangga dengan sesuatu yang tidak kau perbuat. Engkau tidak berhak berbangga dan lupa diri. Pasalnya, yang berasal darimu adalah kekurangan dan keburukan. Kalaupun ada kebaikan maka sifatnya parsial sama seperti bagian kehendakmu. Namun dengan bagian kehendakmu itupun engkau melakukan keburukan secara total. Pasalnya, dengan kekuranganmu engkau menjatuhkan buah dari semua sebab yang mengarah kepada tujuanmu. Karena itu, semestinya engkau merasa rugi dan malu. Namun sebaliknya, englau malah bersikap seperti Firaun.
Perumpamaanmu dalam hal ini seperti orang tertipu yang bodoh yang menjadi sekutu bagi rombongan dagang di kapal. Setiap orang melaksanakan tugasnya. Akan tetapi, ia meninggalkan tugasnya menggerakkan kapal sehingga tenggelam. Akhirnya mereka mengalami kerugian sebanyak seribu dinar. Orang itupun disalahkan, “Engkau harus membayar kerugian yang ada.” “Tidak. Tetapi kita harus berbagi. Aku hanya akan membayar sesuai bagianku,” jawabnya. Lalu pada perjalanan lain, ia melakukan seperti yang mereka lakukan sehingga mendapatkan keuntungan sebanyak seribu dinar. Lalu ada yang berkata kepadanya, “Laba ini harus dibagi sesuai modal.” “Tidak, semua laba adalah untukku. Jika pada kali pertama kalian menyuruhku membayar semua kerugian, maka semua keuntungan juga untukku,” jawabnya. Maka, iapun dicela, “Wahai orang bodoh!” “Wujud bergantung kepada keberadaan semua elemen. Buah wujud atau eksitensi memberikan kepada semua. Keuntungan tersebut aalah wujud. Sementara, kerugian adalah buah ketiadaan padahal semua tiada dengan ketiadaan satu bagian dan dengan tidak adanya satu syarat.
--------------------------------
[1] Q.S. al-Baqarah: 255.
[2] Pelajaran keenam dari “Pengantar Menuju Cahaya”.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence