Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 262
(1-357)
Karena itu, wahai Said yang namanya berarti gembira, namun tubuhnya celaka, kau kembalikan buah ketiadaan kepada pihak yang menjadi sebab ketiadaan. Engkau tidak berhak bangga dan lupa diri.

Pertama, karena keburukan berasal darimu, sementara kebaikan berasal dari Tuhanmu.

Kedua, karena keburukanmu bersifat total, sementara kebaikanmu bersifat parsial.

Ketiga, karena engkau mengambil upah amal kebaikanmu sebelum beramal. Bahkan, semua kebaikanmu tidak sebanding dengan karunia Zat yang menjadikanmu sebagai sosok muslim. Dari sini, sorga benar-benar merupakan anugerah-Nya semata, sementara jahannam adalah sebuah bentuk keadilan. Pasalnya, dengan kejahatannya yang parsial dan sementara, manusia melakukan kejahatan yang bersifat total dan abadi.

Keempat, karena kebaikan baru menjadi kebaikan jika dilakukan karena Allah. Jika dilakukan karena-Nya, itu adalah berkat taufik dan anugerah-Nya. Karena itu, yang seharusnya dilakukan adalah bersyukur; bukan malah berbangga dengan pamer dan riya yang membuat kebaikan menjadi keburukan. Di antara bentuk kebodohanmu terkait dengan hakikat ini adalah dirimu tertipu dan lupa diri kepada orang. Kau nisbatkan kebaikan jamaah kepada diri sehingga menjadi seperti Firaun. Bahkan, engkau membagi milik Allah dan perbuatannya kepada para toghut.

Demikian pula, di antara bentuk kebodohan tersebut adalah engkau menisbatkan keburukanmu yang benar-benar berasal darimu kepada takdir untuk lari dari tanggung jawab. Sementara, engkau merasa memiliki kebaikan yang sebenarnya merupakan limpahan karunia Tuhan kepada dirimu agar dipuji dengan sesuatu yang tidak kau perbuat. Semestinya engkau memperlihatkan adab yang diajarkan oleh Alquran,

Kebaikan yang kau terima berasal dari Allah, sementara keburukan yang kau terima berasal dari dirimu.[1] Jagalah milikmu, tapi jangan merampas yang bukan milikmu. Selain itu, bersikaplah dengan adab yang diajarkan Alquran dengan menjadikan balasan bagi keburukan setara dengannya, sementara balasan kebaikan adalah sepuluh kali lipat darinya. Jangan sampai melampaui batas dalam memusuhi seseorang sehingga sampai melebar kepada kerabat-kerabatnya dan semua sifatnya. Dengan cintamu kepada orang yang berbuat baik maafkan kesalahannya.

Ketahuilah! Wahai Said yang lalai dan sibuk dengan sesuatu tak berguna. Engkau meninggalkan tugasmu dan sibuk dengan tugas Tuhanmu. Di antara bentuk kezaliman dan kebodohanmu adalah engkau meninggalkan tugas ibadah yang ringan yang mampu kau lakukan lalu memikulkan ke pungung, kepala, dan kalbumu yang lemah tugas rububiyah yang merupakan milik Zat, “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. Dalam bentuk yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”[2]
-----------------------------
[1] Q.S. an-Nisa; 79.
[2] Q.S. al-Infithâr: 7-8.
No Voice