Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 337
(1-357)
Yang pertama adalah orang asing yang tidak memahami satu hurufpun tentang bahasa Arab. Bahkan ia tidak memahami kalau yang dihadapannya merupakan sebuah kitab. Namun, ia memiliki kemampuan arsitektur, seni rupa, pengetahuan tentang permata berikut karakteristiknya. Ia menulis sebuah buku besar yang membahas tentang ukiran huruf berikut kesesuaiannya, permatanya, karakteristiknya, serta posisi dan pengenalan tentangnya.
Sementara, yang satunya lagi ketika melihatnya ia mengetahui kalau hal itu merupakan sebuah kitab yang jelas dan Alquran yang penuh hikmah. Karena itu, ia tidak sibuk dengan ukiran huruf-hurufnya yang indah. Namun, ia sibuk dengan sesuatu yang lebih tinggi, lebih berharga, lebih halus, lebih mulia, lebih indah, dan jauh lebih baik daripada apa yang menjadi fokus perhatian temannya. Yaitu penjelasan mengenai permata maknanya serta cahaya rahasianya. Iapun menulis tafsir mengenai hakikat ayat-ayatnya.
Wahai yang memiliki akal, mana di antara dua buku tersebut yang disebut sebagai kitab hikmah Alquran? Jika engkau memahami perumpamaan yang ada, perhatikan sisi hakikatnya sebagai berikut: Alquran adalah alam ini. Adapun kedua orang di atas adalah buku filsafat berikut para ahli hikmah dan Alquran berikut murid-muridnya.
Siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia cukup baginya.[1]
Ketahuilah wahai Said,[2] kebahagiaan terletak pada sikap tawakkal. Karena itu, bertawakkallah kepada Allah agar engkau bisa beristirahat di dunia dan mendapatkan manfaat di akhirat.
Orang yang bertawakkal dan tidak bertawakkal seperti dua orang yang memikul beban berat di atas punggung dan kepala mereka. Keduanya masuk ke dalam sebuah kapal laut. Yang satu meletakkan bebannya di kapal tadi lalu duduk di atas barangnya seraya beristirahat.
Sementara yang lain karena sangat bodoh tidak meletakkan beban yang dipikulnya. Ketika ada yang menegur orang tersebut, “Letakkan bebanmu yang berat di atas kapal!” ia menjawab, “Saya kuat.” “Kapal yang mengangkutmu lebih kuat dan lebih aman. Di samping itu, punggung dan kepalamu—yang sangat lemah—tak mampu memikul beban yang sangat berat. Bahkan, engkau akan selamat jika meletakkan beban tersebut. Jika pemilik kapal melihatmu dalam kondisi demikian, bisa jadi ia berkata, ‘Ia orang gila. Usirlah!’ atau ‘Ia tidak percaya dengan kapal kita dan meremehkan kita. Karena itu, tahanlah!’ Bahkan, engkau akan menjadi bahan ejekan orang. Ketika kekuatanmu tidak cukup untuk terus memikul, engkau terpaksa bermanis muka yang mengarah kepada sikap riya, sombong yang mengarah kepada kelemahan, lupa diri yang mengarah kepada ketidakberdayaan, sehingga menjadi kondisimu ditertawakan orang-orang.” Orang itupun memahami kekeliruannya. Lalu meletakkan bebannya dan duduk di atasnya. Ia bernafas dan beristirahat seraya berkata, “Semoga Allah memberikan balasan kebaikan. Engkau telah menunjukkan diriku kepada kelapangan, keselamatan, dan ketenangan.
-------------------------------
[1] Q.S. ath-Thalaq: 3.
[2] Kata kedua puluh tiga berisi penjelasan yang memadai.
Sementara, yang satunya lagi ketika melihatnya ia mengetahui kalau hal itu merupakan sebuah kitab yang jelas dan Alquran yang penuh hikmah. Karena itu, ia tidak sibuk dengan ukiran huruf-hurufnya yang indah. Namun, ia sibuk dengan sesuatu yang lebih tinggi, lebih berharga, lebih halus, lebih mulia, lebih indah, dan jauh lebih baik daripada apa yang menjadi fokus perhatian temannya. Yaitu penjelasan mengenai permata maknanya serta cahaya rahasianya. Iapun menulis tafsir mengenai hakikat ayat-ayatnya.
Wahai yang memiliki akal, mana di antara dua buku tersebut yang disebut sebagai kitab hikmah Alquran? Jika engkau memahami perumpamaan yang ada, perhatikan sisi hakikatnya sebagai berikut: Alquran adalah alam ini. Adapun kedua orang di atas adalah buku filsafat berikut para ahli hikmah dan Alquran berikut murid-muridnya.
Siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia cukup baginya.[1]
Ketahuilah wahai Said,[2] kebahagiaan terletak pada sikap tawakkal. Karena itu, bertawakkallah kepada Allah agar engkau bisa beristirahat di dunia dan mendapatkan manfaat di akhirat.
Orang yang bertawakkal dan tidak bertawakkal seperti dua orang yang memikul beban berat di atas punggung dan kepala mereka. Keduanya masuk ke dalam sebuah kapal laut. Yang satu meletakkan bebannya di kapal tadi lalu duduk di atas barangnya seraya beristirahat.
Sementara yang lain karena sangat bodoh tidak meletakkan beban yang dipikulnya. Ketika ada yang menegur orang tersebut, “Letakkan bebanmu yang berat di atas kapal!” ia menjawab, “Saya kuat.” “Kapal yang mengangkutmu lebih kuat dan lebih aman. Di samping itu, punggung dan kepalamu—yang sangat lemah—tak mampu memikul beban yang sangat berat. Bahkan, engkau akan selamat jika meletakkan beban tersebut. Jika pemilik kapal melihatmu dalam kondisi demikian, bisa jadi ia berkata, ‘Ia orang gila. Usirlah!’ atau ‘Ia tidak percaya dengan kapal kita dan meremehkan kita. Karena itu, tahanlah!’ Bahkan, engkau akan menjadi bahan ejekan orang. Ketika kekuatanmu tidak cukup untuk terus memikul, engkau terpaksa bermanis muka yang mengarah kepada sikap riya, sombong yang mengarah kepada kelemahan, lupa diri yang mengarah kepada ketidakberdayaan, sehingga menjadi kondisimu ditertawakan orang-orang.” Orang itupun memahami kekeliruannya. Lalu meletakkan bebannya dan duduk di atasnya. Ia bernafas dan beristirahat seraya berkata, “Semoga Allah memberikan balasan kebaikan. Engkau telah menunjukkan diriku kepada kelapangan, keselamatan, dan ketenangan.
-------------------------------
[1] Q.S. ath-Thalaq: 3.
[2] Kata kedua puluh tiga berisi penjelasan yang memadai.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence