Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 343
(1-357)
Bismillâhirrahmânirrahim

Kepada-Nya kita memohon pertolongan

Bismillah. Ketahuilah![1] Segala sesuatu berucap bismillah. Entah dengan lisan ucapannya, keadaannya, atau kecenderungannya. Segala sesuatu, mulai dari partikel hingga mentari, semua dengan kelemahannya memikul tugas menakjubkan yang kekuatannya sendiri tak mampu membawa seperseratus dari tugas tadi. Maka secara aksiomatik dapat dipahami bahwa ia hanya bisa dipikul dengan kekuatan Zat Yang Mahakuat dan Maha Perkasa. Ia hanya dapat dijalankan dengan nama Yang Mahakuasa dan Maha Bijaksana.

Selain itu, dengan bodoh, punggung dan kepalanya memikul berbagai tujuan yang seimbang dan buah yang tertata yang memberikan manfaat secara umum. Padahal, yang kembali kepada dirinya hanya sepersekian saja. Karena itu, dari sini dapat dipahami bahwa berbagai tujuan penuh hikmah itu hanya bisa dipikul dengan nama Yang Mahaagung dan Maha Bijaksana. İa diantarkan kepada makhluk hidup dengan nama Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta sesuai perhitungan Zat Yang Maha Mengetahui dan Maha Pemurah.

Engkau bisa melihat benih dan biji berikut pohon dan bulir yang ia pikul. Perhatikan pula pohon dan buah, hewan dan binatang-binatang kecil berikut tugas mereka yang menakjubkan. Orang yang memiliki daya rasa sekecil apapun akan memahami bahwa jika seseorang menggiring semua penduduk negeri kepada tempat yang jauh tanpa rida mereka, serta kepada berbagai tugas dan berbagai pengabdian, tentu semua itu hanya bisa terwujud dengan kekuataan rajanya. Ia hanya bisa bekerja atas namanya. Maka, dapat dipahami pula bahwa seluruh entitas yang lemah dan bodoh tidak mungkin bisa memikul berbagai tugas besar yang begitu rapi kecuali dengan nama Zat Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui, serta sesuai dengan kehendak Zat Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Buah ini kita dapat dari kalimat bismillâhirrahmânirrahîm. Yang menjadi tugas dan tujuannya adalah kenikmatan khusus yang diberikan oleh rahmat Tuhan yang menyeluruh kepada setiap individu dalam pengabdian yang bersifat khusus pula. Hal ini sama seperti nikmatnya cinta dalam kasih sayang orang tua, manisnya aktivitas dalam kesiapan lebah melaksanakan wahyu, rasa nikmat di saat makan, serta kelapangan ketika keluar dari kekuatan menuju aksi. Apa yang terdapat pada kekuatan laksana kondisi terkekang dan terikat, sementara apa yang keluar menuju aksi dan perbuatan ibarat bernafas dengan lega.
----------------------------
[1] Kata pertama menjelaskan persoalan ini.
No Voice