Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 344
(1-357)
Sang Pencipta Yang Mahabijak dan Raja Yang Maha Pemurah menjadi kenikmatan parsial tadi sebagai upah dari pengabdiannya, serta indek bagi teknis pelaksanaan tugasnya, dan sumber dari gerakannya.

Wahai manusia yang memikul amanah besar!

Bagaimana mungkin engkau tidak mematuhi aturan yang menjangkau segala sesuatu mulai dari arasy sampai bumi. Bagaimana engkau terus membangkang dalam menghadapi ketentuan Zat yang menundukkan mentari dan bulan serta mempekerjakan bintang dan partikel.

Ketahuilah bahwa perbedaan antara jalan tauhid dan atheis sama seperti perbedaan antara sorga dan neraka, serta antara yang pasti dan mustahil. Engkau bisa melihat kepada perbandingan antara dua jalan tersebut sebagai berikut:

Dalam tauhid, segala sesuatu yang tak terbatas dinisbatkan kepada Yang Mahaesa sehingga menjadi ringan beban dan biayanya sampai-sampai menjadi sama antara mentarid an partikel, yang sedikit dan banyak bagi qudrat-Nya.

Dalam segala sesuatu tauhid memperlihatkan berbagai tujuan penting dilihat dari sudut pandangnya kepada Sang Pencipta. Di antara tujuan tersebut adalah bagaimana sesuatu memperlihatkan nama-nama Penciptanya seolah-olah ia merupakan satu kata yang mencakup seluruh rumus nama-Nya sehingga menunjukkan kepadanya.

Adapun tujuan yang diketahui di kalangan orang-orang yang lalai dilihat dari sisi manfaat yang didapat berupa makan dan yang lain. Karena itu, ia demikian sedikit, terbatas, hina, dan kecil sehingga tidak bisa menjadi tujuan sempurna bagi penciptaan sesuatu. Namun, ia menjadi media bagi salah satu tujuannya.

Pandangan atheis menisbatkan yang satu kepada banyak tak terhingga. Dengan kata lain, ia menyandarkan segala sesuatu kepada berbagai unsur dan alam yang lemah dan mati serta kepada kekuatan dan hukum yang buta dan tuli. Karenanya, beban yang ada menjadi berkali-kali lipat lebih berat di mana beban individu menyamai beban keseluruhan spesies. Bahkan, beban satu entitas menyamai beban semuanya.

Atheis tidak melihat tujuan sesuatu kecuali sebatas yang kembali kepada manusia yang terkait dengan bagian nafsu hewaninya atau kepada hal sama yang terkait dengan bagian kehidupan duniawinya.

Kondisi ahli tauhid dan atheis sama seperti dua orang yang melihat benih kurma lalu memberikan pengenalan tentangnya.

Yang pertama berkata, “Ia merupakan sebuah indeks dari berbagai indeks tak terhingga yang disebut dengan benih. Di antara tujuan benih tersebut adalah identifikasi maknawi terhadap sebuah pohon, pengenalan tentang sejarah hidupnya, dan peta eksistensinya agar ia menjadi mesin yang merangkai pohon kurma seperti aslinya.”

Selanjutnya, yang kedua berkata, “Tidak. Pohon ini dengan seluruh bagian dan daunnya berkumpul pada benih tersebut. Lalu benih tersebut menghadirkannya. İa mengumpulkan semua perangkat kurma yang kuat dan menyiapkannya. Tidak ada tujuan dari pohon tersebut kecuali benih tadi.
No Voice