Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | Al-Matsnawi al-Arabi an-Nuriye | 345
(1-357)
Wahai yang memiliki perasaan, mungkinkah dalam menyaksikan kemudahan mutlak, dalam kedermawanan mutlak, dalam kemurahan mutlak berikut hikmah umum dalam keteraturan mutlak ini, penciptaan sesuatu seperti delima misalnya dinisbatkan kepada sebab-sebab yang mati, namun bisa menghasilkan perangkat berbagai hal untuk membuat sesuatu yang menjadi miniatur dari banyak hal? Lalu, mungkinkah delima tadi hanya untuk dimakan dalam bebarapa menit kenikmatan.
Ya, bagaimana hikmah yang menugaskan sejumlah indera pada kepala manusia dengan berbagai tugas bisa membantu, sementara kalau setiap tugas darinya yang terdapat di kepala diberi kadar sebesar biji sawi, tentu kepala manusia akan menjadi sebesar gunung Thursina.
Lihatlah lisanmu berikut tugas-tugasnya. Di antara tugasnya adalah mengukur simpanan kekayaan rahmat Tuhan.
Bagaimana hikmah tersebut sepakat agar buah seperti delima luar biasa tadi tujuannya hanya untuk dimakan seketika dalam kondisi lalai. Tentu sangat mustahil kepalamu akan membuahkan gunung buah dan yang seperti gunung tadi tidak membuahkan apa-apa kecuali buah seperti kepalamu. Sebab, dalam kondisi demikian puncak hikmah harus menyatu dengan puncak kesia-siaan. Ini betul-betul sangat mustahil. Namun, pohon delima itu sama seperti yang lain. Ia berisi untaian penjelasan nama-nama-Nya. Ia menyampaikan sejumlah maknanya dengan sempurna lalu selesai dan dikubur dalam mulutmu.
Mahasuci Zat yang semua akal terheran-heran dengan kreasi-Nya.
Ini adalah cahaya dari pohon ayat yang berbunyi,
Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih memuji-Nya.[1]
Aku melihatnya saat bunga dari pohon tumbuh mekar di musim semi. Ia demikian menarik perhatian dan akupun merenungkan tasbihnya. Aku berbicara dengan diri sendiri dengan tasbih yang ada dalam alam pikir. Pada sebagiannya terdapat tarian menarik yang menyerupai syair, padahal bukan merupakan syair. Namun, ia adalah rima zikir dalam tarikan pikiran.
Bismillâhirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah yang segala sesuatu bertasbih untuk-Nya dengan untaian kata khusus yang terlihat seperti yang terdengar. Misalnya,
Sinar, sungai, dan hembusan merupakan kosakata cahaya, air, dan udara. Demikian seterusnya.
------------------------
[1] Q.S. al-Isra: 44.
Ya, bagaimana hikmah yang menugaskan sejumlah indera pada kepala manusia dengan berbagai tugas bisa membantu, sementara kalau setiap tugas darinya yang terdapat di kepala diberi kadar sebesar biji sawi, tentu kepala manusia akan menjadi sebesar gunung Thursina.
Lihatlah lisanmu berikut tugas-tugasnya. Di antara tugasnya adalah mengukur simpanan kekayaan rahmat Tuhan.
Bagaimana hikmah tersebut sepakat agar buah seperti delima luar biasa tadi tujuannya hanya untuk dimakan seketika dalam kondisi lalai. Tentu sangat mustahil kepalamu akan membuahkan gunung buah dan yang seperti gunung tadi tidak membuahkan apa-apa kecuali buah seperti kepalamu. Sebab, dalam kondisi demikian puncak hikmah harus menyatu dengan puncak kesia-siaan. Ini betul-betul sangat mustahil. Namun, pohon delima itu sama seperti yang lain. Ia berisi untaian penjelasan nama-nama-Nya. Ia menyampaikan sejumlah maknanya dengan sempurna lalu selesai dan dikubur dalam mulutmu.
Mahasuci Zat yang semua akal terheran-heran dengan kreasi-Nya.
Ini adalah cahaya dari pohon ayat yang berbunyi,
Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih memuji-Nya.[1]
Aku melihatnya saat bunga dari pohon tumbuh mekar di musim semi. Ia demikian menarik perhatian dan akupun merenungkan tasbihnya. Aku berbicara dengan diri sendiri dengan tasbih yang ada dalam alam pikir. Pada sebagiannya terdapat tarian menarik yang menyerupai syair, padahal bukan merupakan syair. Namun, ia adalah rima zikir dalam tarikan pikiran.
Bismillâhirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah yang segala sesuatu bertasbih untuk-Nya dengan untaian kata khusus yang terlihat seperti yang terdengar. Misalnya,
Sinar, sungai, dan hembusan merupakan kosakata cahaya, air, dan udara. Demikian seterusnya.
------------------------
[1] Q.S. al-Isra: 44.
No Voice
Türkçe
English
العربية
Pyccĸий
français
Deutsch
Español
italiano
中文
日本語
Қазақ
Кыргыз
o'zbek
azərbaycan
Türkmence